Sholat-Dhuha.Info. Powered by Blogger.
RSS

Senandung Dhuha Diantara Kaum Duafa

Kami sudah terbiasa puasa harian, apalagi Ramadhan
Berdoa diantara irama keroncongan
Pada derita yang menganga diantara kesombongan
orang-orang yang menganggap dirinya jagoan

Senandung Dhuha….
Saat mentari pagi hendak meninggi
Menyeruak masuk dibilik kardus tepi kali
Sebelum kami mengais ais rejeki

Fasilitas Premium Sholat Dhuha

Suatu ketika Rasul Saw mengutus pasukan perang dan mereka kembali dengan cepat memboyong harta rampasan (ghanimah) yang banyak hingga menimbulkan perbincangan ramai di kalangan masyarakat (Yusni A Ghazali, 2009). Mendengar itu Rasul Saw bersabda,”…orang yang berwudhu kemudian berangkat ke mesjid untuk menunaikan shalat Dhuha. Orang itulah yang akan mendapatkan tempat penyerbuan paling dekat dan mendapat ghanimah paling banyak serta kembali (menang) dari medan perang dengan cepat.” (HR Ahmad).

Shalat Dhuha yang ditegakkan karena Allah Swt juga memberikan fasilitas-fasilitas lain seperti pengampunan dosa, meningkatkan derajat kemuliaan, waktu mustajab pengabulan doa, perluasan rezeki, sarana sedekah yang diwajibkan atas setiap persendian manusia, dan pintu eksklusif menuju surga.

Sholat Awwabin Sama Dengan Sholat Dhuha?


Istilah shalat awwabin mungkin belum terlalu familiar, karena jarang digunakan dan dijelaskan. Padahal beberapa hadits menyebutkannya. Apakah Shalat Awwabin itu dan apa perbedaannya dengan shalat sunnah rawatib? Apakah sama sholat awwabin dengan sholat dhuha?

Makna Awwabin
Kata Awwabin jama' (bentuk plural) dari Awwab, maknanya: orang yang taat, yang kembali kepada ketaatan. (Lihat Syarh Shahih Muslim li an-Nawawi no. 1237). Menurut Syaikh al-Mubarakfuuri dalam Ithaful Kiram, ta'liq atas Bulughul Maram hal. 112, maknanya adalah Al-Raja' (yang banyak kembali), maksudnya: orang yang banyak kembali kepada Allah Ta'ala dengan melaksanakan kebaikan-kebaikan dan hasanat (kebajikan) serta meninggalkan perbuatan-perbuatan munkar dan buruk."

Kemuliaan Orang Yang Sholat Dhuha

Orang yang suka memulai di pagi harinya dengan menyebut dan mengagungkan Allah dengan melakukan shalat dhuha yakni shalat sunnat dua rakaat sekali, dua kali, tiga kali atau empat kali sesudah naik matahari kira-kira antara jam 8 sampai dengan jam 11, Allah SWT akan menjamin baginya dengan jaminan istimewa di dunia dan akhirat.

Perbuatan tersebut adalah kebiasaan yang dilakukan Rasulullah SAW selama hidupnya, sebagaimana beberapa keterangan antara lain :

Sholat Dhuha: Manfaat dan Hakikatnya

Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslimin dan muslimah ketika waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka’at bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka’at. Dan dilakukan dalam satuan 2 raka’at sekali salam.

Keutamaan atau manfaat shalat dhuha ini adalah apa yang diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud dan Ahmad dari Abu Dzar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab setiap kali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh orang lain agar melakukan amal kebaikan adalah sedekah, melarang orang lain agar tidak melakukan keburukan adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu maka cukuplah mengerjakan dua rakaat shalat dhuha.”

Hadits-Hadits Sholat Dhuha

“Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).

“Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).
“Kekasihku Rasulullah saw telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua raka’at dhuha dan witir sebelum tidur” (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).